Lebih dari Sekadar Kelas: Bagaimana Kokurikuler Membentuk Karakter Siswa PAUD - Menengah

0

A. Makna dan Pentingnya Kokurikuler 

1. Pengertian Kokurikuler

Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter. 

Kompetensi yang dimaksud adalah delapan dimensi profil lulusan, yaitu: 1) keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; 2) kewargaan; 3) penalaran kritis; 4) kreativitas; 5) kolaborasi; 6) kemandirian; 7) kesehatan; dan 8) komunikasi.  

 2. Pentingnya Kokurikuler

Dalam upaya mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju, pendidikan bermutu untuk semua adalah komitmen yang harus selalu dipegang teguh. Komitmen ini tidak cukup diwujudkan hanya melalui pengalaman belajar intrakurikuler dan ekstrakurikuler saja, tetapi juga perlu diperkuat melalui kegiatan kokurikuler yang dirancang secara sistematis, bermakna, dan kontekstual. Kokurikuler memiliki peran strategis untuk menjembatani antara pembelajaran konseptual di kelas dan penerapannya dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat mengembangkan kompetensi secara lebih utuh dan kontekstual. Kompetensi dalam hal ini adalah delapan dimensi profil lulusan. 

Kokurikuler juga memiliki peran untuk menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan, bermakna, dan memberdayakan, yang memungkinkan murid tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Dengan kata lain, kokurikuler memberi ruang hidup bagi pembelajaran mendalam untuk benar-benar terjadi bukan hanya di kepala murid, tetapi juga di hati, tangan, dan tindakan nyata mereka. Kokurikuler menjadikan satuan pendidikan bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat bertumbuh sebagai manusia seutuhnya. 

3. Tujuan Kokurikuler 

Kegiatan kokurikuler bertujuan mendukung tercapainya delapan dimensi profil lulusan secara nyata dan kontekstual melalui pengalaman belajar yang bermakna. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Disamping itu, delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif. Berikut adalah delapan dimensi profil lulusannya:

Korwilcam Bidik Karangrayung

4. Karakteristik Kokurikuler 

Karakteristik kegiatan kokurikuler bersifat fleksibel dan kontekstual, serta dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan dan kekhasan satuan pendidikan. Tetapi, kegiatan kokurikuler tidak dirancang secara acak atau sekedar tambahan kegiatan. Kegiatan tumbuh untuk identifikasi dimensi profil lulusan yang ingin dikuatkan atau diperdalam. Dengan menentukan terlebih dahulu aspek dimensi profil lulusan yang menjadi fokus, satuan pendidikan dapat merancang kegiatan kokurikuler yang relevan dan berdampak positif pada satuan pendidikan tersebut. Berikut ini adalah kriteria kegiatan kokurikuler:

1) Memiliki tujuan untuk memperkuat satu atau lebih dari delapan dimensi profil lulusan

2) Mengembangkan tema sebagai muatan pembelajaran yang relevan dengan konteks  sosial budaya dan karakteristik murid

3) Mengelola alokasi waktu secara fleksibel mengacu pada struktur kurikulum yang berlaku.

4) Mengembangkan rangkaian kegiatan secara terencana (memuat tujuan, langkah-langkah pelaksanaan, dan asesmen).

B. Kerangka Pembelajaran Kokurikuler

1. Praktik Pedagogis 

Pendidik dalam pembelajaran berperan sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar, yang mendampingi proses berpikir, merasakan, dan bertindak murid secara reflektif, serta melibatkan murid mengembangkan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Praktik pedagogis dalam kegiatan kokurikuler mengutamakan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu melalui pembelajaran aktif seperti model pembelajaran berbasis penyelidikan (inquiry), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran berbasis masalah, dan ruang eksplorasi yang memungkinkan murid mengonstruksi pengetahuan dan membangun makna secara mandiri maupun kolaboratif. 

2. Lingkungan Pembelajaran 

Kegiatan kokurikuler mampu mendorong pemaknaan ruang belajar yang lebih luas, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di luar ruang formal: area-area di dalam dan sekitar satuan pendidikan, komunitas lokal, bahkan ruang digital. Lingkungan pembelajaran yang mendukung yaitu lingkungan yang aman, terbuka, inklusif, dan menghargai keberagaman cara belajar murid. Hal ini memungkinkan murid mengalami pembelajaran secara utuh dan kontekstual sehingga tercapai tujuan pembelajaran.

3. Kemitraan Pembelajaran 

Pelaksanaan kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya agar efektif, berkesinambungan dan berdampak masif, maka diperlukan kemitraan dengan berbagai pihak. Kemitraan dalam hal ini dapat ditinjau dari catur pusat pendidikan yang meliputi: satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media.

4. Pemanfaatan Teknologi Digital

Teknologi digital menjadi alat bantu yang memperluas akses belajar dan memperkaya pengalaman belajar murid. Dalam kegiatan kokurikuler, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi, mendokumentasikan proses, menyampaikan berbagai pesan ke publik, berkolaborasi jarak jauh, memvisualisasikan ide kreatif murid, mempublikasikan hasil pembelajaran yang telah dikerjakan. Teknologi digital dapat juga dimanfaatkan untuk asesmen dan bertukar informasi antar guru tentang perkembangan belajar murid.

 

C. Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler 

1. Perencanaan Kokurikuler

Dalam merencanakan kokurikuler, diperlukan beberapa tahapan kerja: 

a. Penentuan Tim Kerja Kokurikuler

b. Analisis Satuan Pendidikan

c. Membuat perencanaan berdasarkan hasil analisis

d. Pembelajaran kolaborasi lintas disiplin ilmu

e. Gerakan 7 KAIH

f. Cara Lainnya (kegiatan-kegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan) 

 

2. Pelaksanaan dan Asesmen Kokurikuler

Pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk kolaboratif lintas disiplin ilmu dapat dilaksanakan seperti pembelajaran intrakurikuler yang berorientasi pada CP (Capaian Pembelajaran) sesuai mata pelajaran yang terlibat dalam rangka memperkuat delapan dimensi profil lulusan. Hasil asesmen dari bentuk ini dapat diintegrasikan pada nilai di intrakurikuler sesuai mata pelajaran yang relevan. 

Pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk 7 KAIH perlu mempertimbangkan alokasi waktu yang mendukung, mengingat hasil yang diharapkan juga berupa kebiasaan, sehingga perlu penyesuaian pelaksanaan dalam frekuensi yang lebih rutin. Misalnya kebiasaan berolahraga setiap minggu atau beberapa hari dalam seminggu dari hasil kesepakatan bersama dalam fokus tema berolahraga. Walaupun tema kemudian berganti, misalnya satuan pendidikan berganti fokus ke tema makan sehat dan bergizi, pembiasaan berolahraga tetap perlu dilakukan secara rutin. Bentuk asesmen formatif pun menyesuaikan untuk kurun waktu yang cukup panjang, misalnya jurnal olahraga murid untuk satu semester atau tiga bulan, walaupun asesmen sumatif sudah selesai dilaksanakan. Begitu pula pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk cara lainnya.

  

3. Pelaporan Hasil Kokurikuler

Pelaporan hasil kokurikuler dalam rapor murid dicantumkan pada kolom Kokurikuler. Pelaporan berisi deskripsi tentang kegiatan yang dilakukan murid dalam kokurikuler beserta pencapaian dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Mengingat pada satuan PAUD kegiatan kokurikuler dapat terintegrasi dengan intrakurikuler, maka pelaporan kokurikuler dapat diintegrasikan dalam deskripsi elemen CP yang paling terkait dengan dimensi profil lulusan yang dipilih. Apabila satuan PAUD membuat kegiatan kokurikuler yang terpisah dengan intrakurikuler, maka dapat dibuat kolom kokurikuler tersendiri di rapor. Deskripsi dalam rapor mencakup seluruh kegiatan kokurikuler yang dilakukan dalam tiap semester. Artinya, jika satuan pendidikan membuat dua atau lebih kegiatan kokurikuler dalam satu semester maka pelaporannya cukup satu yang mencakup dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Misal, SD X di semester ganjil menyepakati melaksanakan 2 kegiatan kokurikuler, yaitu pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang fokus pada dimensi penalaran kritis dan gerakan 7KAIH yang fokus pada dimensi kolaborasi, maka yang dilaporkan adalah hasil belajar pada dimensi penalaran kritis dan kolaborasi. 

 

D. Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler

Model evaluasi yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi kegiatan kokurikuler meliputi masukan (input), proses (process), keluaran (output), dan hasil (outcome). masukan mencakup sumber daya dan perencanaan pembelajaran dengan tujuan untuk menilai apakah sumber daya yang tersedia telah dimanfaatkan secara optimal dan perencanaan yang dibuat dapat dilakukan. Proses mencakup tindakan yang dilakukan dalam menjalankan kegiatan. Evaluasi pada proses bertujuan untuk menilai apakah kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana dan partisipasi murid. 

Tindak lanjut merupakan langkah konkret yang diambil berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan, memperkuat keunggulan, dan meningkatkan efektivitas kegiatan. Beberapa bentuk tindak lanjut yang dapat dilakukan antara lain: 

  • Perbaikan perencanaan kegiatan: menyesuaikan kembali tujuan, strategi, dan indikator keberhasilan berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya. Apabila terdapat dimensi yang belum tercapai maka dimensi tersebut dilanjutkan kembali pada kegiatan kokurikuler tahun berikutnya. 
  • Peningkatan kompetensi guru: memberikan pelatihan atau workshop kepada guru untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan.
  • Pengadaan sarana dan prasarana: memenuhi kebutuhan fasilitas penunjang agar kegiatan dapat berjalan optimal.
  • Peningkatan partisipasi murid: melakukan pendekatan kreatif untuk menarik minat murid dan menciptakan lingkungan yang inklusif.

 

Bapak/Ibu Guru dapat membaca dan download buku panduan kokurikuler 

BUKU PANDUAN KOKURIKULER 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda

Posting Komentar (0)